Rabu, 12 September 2012

MENUJU CAHAYA ILAHI

Sahabatku,
Hatimu adalah cermin yang kotor. Bersihkanlah debu yang melekatinya, karena hati ditakdirkan untuk memantulkan cahaya hakikat Ilahi.
          Jika cahaya dari Allah, yang merupakan cahaya langit dan bumi ... menerangi hatimu, ia akan menyalakan lentera hatimu, yang berada dalam kaca yang bening, dan kaca yang bening itu bersinar terang bagaikan bintang ... Dan, berkilaulah bintang Ilahi dalam hatimu. Kilauan ini memancar dari awan makna yang tak berasal dari Timur maupun Barat, menyala dari pohon zaitun ... cahaya itu memantul dari pohon itu, sangat jernih dan terang seolah-olah memancarkan cahaya meski tak disentuh api. Ketika itulah lentera hikmah menyala terang. Bagaimana mungkin ia padam jika cahaya Allah menerangi seluruh relungnya?
          Hanya jika cahaya hakikat Ilahi menyinarinya, barulah langit malam hakikat menjadi terang disinari ribuan bintang ... dan dengan bintang gemintang (kau akan) temukan jalan (mu) ... Bukan bintang-bintang itu yang menunjukimu, melainkan cahaya Ilahi. Sebab Allah telah ... menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang. Hanya jika lentera hakikat ilahi dinyalakan dalam sanubarimu, segalanya akan datang, serempak seketika atau sedikit demi sedikit.
          Kehadiran Ilahi akan menyirnakan sisi gelap kebodohan. Kedamaian dan keindahan purnama akan terbit dari ufuk cahaya di atas cahaya, yang senantiasa terbit di langit, melintasi garis edar yang telah ditakdirkan Allah sehingga ia bersinar megah di pusat langit, memecah kegelapan lalai.

(Syekh Abdul Qodir Al Jailani r.a)

Sabtu, 28 Juli 2012

LAKON KEHIDUPAN

      Manusia ibarat wayang yang dimainkan oleh Sang Maha Dalang. keberadaan maupun ketidakberadaannya di samudera hidup ini tergantung keinginan Sang Dalang kehidupan. Lakonnya pun beragam, ada yang diberi lakon sebagai orang baik, penjahat, dermawan, kikir, kaya, miskin, dll.
     Perjalanan sang wayang dalam meniti jalan kehidupan ini pun beragam, ada yang lurus bak jembatan shirotol mustaqim, ada juga yang penuh lika-liku dan kerikil tajam yang harus dilaluinya.
     Seberapa beragampun lakon yang kita jalani, pastinya cuma satu tujuan hakiki, bertemu Sang Dalang kehidupan, kembali bersatu dengan Sang Pemilik Ruh kehidupan.

"Hidup ini adalah pencarian, beruntunglah orang yang berusaha mencari arti kebenaran dalam hidup yang fana ini, dan merugilah orang yang terlena berdiam diri menanti lakonnya dihilangkan oleh Sang Dalang."

"فاعتبروا يا أولي الألباب"

Senin, 23 Juli 2012

MENGENAL ALLAH SWT LEWAT ZIKIR DAN PIKIR

Kalau kita ingin mengenal kehebatan seorang arsitek, cara terbaik adalah dengan melihat bangunan yang dirancangnya.
Kalau kita ingin mengenal kehebatan seorang pelukis, maka kita bisa melihat seberapa bagus kualitas lukisannya.
Begitu pula bila ingin mengenal kebesaran Allah, maka kita bisa melihat kualitas ciptaannya. Apa ciptaan Allah tersebut? Itulah alam semesta yang tercipta dan  Al-Quran yang tertulis.
Ada dua cara untuk mengenal kebesaran Allah, yaitu melalui zikir dan pikir. Pikir sesungguhnya merupakan anugerah Allah yang hanya diberikan kepada manusia. Dengan pemikiran, sesuatu yang tidak mungkin dapat berubah menjadi mungkin. Ketika belum ada pesawat terbang, manusia saat itu berkesimpulan bahwa, mustahil manusia akan bisa terbang. Sebuah kesimpulan yang logis karena manusia memang tidak memiliki sayap. Tapi tidak demikian dengan Twin Oter (pencipta pesawat pertama). Ditangkapnya seekor burung. Lalu dipelajarinya sayap, ekor dan kaki. Ditimbangnya berat badan burung. Diperhitungkannya kemampuan sayap mengangkat berat badan. Dianalisanya dengan cermat dan terus-menerus dipikirkan, sehingga pada akhirnya manusiapun bisa terbang, melebihi kemampuan terbangnya seekor burung. Tuan-tuan, manakah yang lebih cepat terbangnya, burung garuda atau pesawat garuda ? Begitu pula ketika belum ada kapal laut. Mustahil besi akan mengapung dipermukaan air. Jangankan besi dengan berat berton-ton, besi sebesar kerikil saja bila dimasukkan kedalam air sudah pasti akan tenggelam. Demikianlah argumentasi orang-orang terdahulu, yang pada saat ini tentu sudah tidak relefan lagi. Kini kapal-kapal laut, termasuk kapal-kapal tengker dengan bobot berpuluh ribu ton mengapung ditengah samudra bagaikan gabus. Inilah kedahsyatan energi pikir yang Allah anugerahkan hanya kepada manusia.
Pikir lebih berkaitan dengan aspek nalar. Semakin seseorang memahami ciptaan Allah, maka akan semakin sadar pula akan kebesaran Allah. Karenanya, Al-Quran berulangkali merangsang manusia untuk terus memikirkan semua itu. Beberapa ungkapan Alquran yang menujukkan hal tersebut, la’allakum tattaqun, la’allakum tadzkurun. Maksudnya Allah menyuruh manusia untuk melihat, merenungkan, dan mengkaji semua ciptaan-Nya. Bahkan Prof Ahmad Salaby menyebutkan bahwa seperlima kandungan Al-Quran berisi petunjuk agar manusia bisa mengkaji alam ini.
Kedua, manusia tidak cukup hanya mengembangkan pikir. Manusia pun perlu zikir. Tanpa zikir manusia bisa memiliki, tapi ia tidak akan menikmati. Manusia bisa sukses, tapi ia tak akan bahagia. Maka, Al-Quran pun mendorong kita untuk mengembangkan kemampun zikir. Zikir bisa dilakukan dengan jalan merenungkan dan menyebut kebesaran Allah. Bila kita mampu mengembangkan dan menyeimbangkan dua hal ini dengan baik, maka kita layak disebut ulil albab. Dalam QS. Ali Imran: 190-191 disebutkan karakteristik dari ulil albab.
إنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّليْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأوْلِي اْلألْبَابِ   ۝ الذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُوْدًا وَعَلَى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ۝
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil albab, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka periharalah kami dari siksa neraka"
Sesungguhnya zikir adalah pembersih hati yang ternoda, penenang jiwa yang gundah dan perekat ukhuwah yang tercerai. Zikir menumbuhkan perasaan cinta kepada Allah, sedangkan cinta kepada Allah merupakan nur pemberi kekuatan. Nur (cahaya) zikir senantiasa bersama dengan orang yang berzikir. Nur merupakan sesuatu yang sangat agung. Ia menuntun manusia menuju kemajuan dan kejayaan. Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam senantiasa memohon berulang-ulang agar dianugerahi nur : “Ya Allah, berikanlah nur kepada dagingku, nur pada tulang-tulangku, nur pada rambutku, nur pada kulitku, nur pada pendengaranku, nur pada penglihatanku, nur di atasku, nur dibawahku, nur dikananku, nur dikiriku, nur di depanku, nur di belakangku. Jadikanlah nur itu dalam diriku dan besarkanlah nur itu untukku”. Maka dengan nur tersebut amal perbuatan seseorang akan bercahaya terang benderang. Berdampak luas pada setiap sikap dan perbuatan. Jika ia seorang pemimpin, nur akan membimbingnya untuk selalu memberikan keteladanan. Sedangkan bagi mereka yang dipimpin, nur akan membuatnya patuh-bersimpuh pada setiap kebenaran, sekaligus nur jualah yang mengobarkan semangatnya untuk menentang setiap kebathilan.
Energi zikir yang ada pada diri manusia bila dikolaborasikan dengan energi pikir, sudah tentu akan menimbulkan kekuatan yang super dahsyat. Akan mampu mengubah kehidupan yang gelap menjadi terang benderang. Mengubah yang lemah menjadi kuat. Mengubah yang hina-dina menjadi terhormat-bermartabat. Inilah yang pernah dipertunjukkan oleh Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.
Kesimpulannya, kesuksesan seorang manusia tidak bisa didapat hanya dengan menggunakan kekuatan pikiran, karena kecerdasan akal tanpa dikolaborasikan dengan kekuatan zikir akan menimbulkan bencana bagi diri sendiri dan alam semesta.

"فَاعْتَبِرُوْا يَا أوْلِي اْلألْبَابِ"

MENJADI MANUSIA UNGGUL DENGAN MENJAGA HUBUNGAN HORIZONTAL DAN VERTIKAL


Kesuksesan, tidak dapat dipungkiri, menjadi keinginan setiap manusia yang hidup di muka bumi ini. Meski begitu banyak sudut pandang dalam menilai arti dari sebuah kesuksesan. Ada yang menilai bahwa orang sukses adalah orang yang memiliki harta berlimpah, ada juga yang menilai bahwa orang yang sukses adalah orang yang mencapai pendidikan yang tinggi, ada pula yang memandang sebuah kesuksesan dari segi ketenangan dalam menjalani samudera hidup ini.

            Allah SWT telah menjelaskan dalam Firman-Nya bahwa tujuan penciptaan setiap manusia adalah beribadah kepada-Nya, hal tersebut tersurat dalam QS. Az-Zariyat; 56 :

وَمَا خَلَقْتُ اْلجِنَّ وَاْلإنْسَ إلَّا لِيَعْبُدُوْنِ (الذاريات : ٥٦)
Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

                Ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan utama dari hadirnya manusia ke dunia ini adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. Maka jika ada manusia yang tidak beribadah dalam perjalanan kehidupannya, sungguh dia telah melupakan hakikat hidupnya di dunia.
            Ibadah merupakan tujuan hidup manusia, namun bukan berarti bahwa manusia selama hidupnya hanya dituntut untuk melakukan ibadah terus menerus dan melupakan urusan dunianya.
            Akhirat memang merupakan tujuan akhir dari perjalanan kehidupan manusia. jika diibaratkan sebuah perjalanan mudik seseorang dari jakarta ke Surabaya, maka Kota Yogyakarta bisa diibaratkan sebagai dunia dalam hidup manusia, yaitu hanya sebuah persinggahan sementara. Maka apakah orang tersebut akan lama terlena di kota Yogyakarta, jika tujuan mudiknya adalah Surabaya?
            Islam, dalam hal ini, menawarkan sebuah konsep yang dapat dijadikan pegangan manusia dalam menjalani kehidupan yang penuh keridhaan Allah SWT, juga mampu mengarahkan manusia menuju kesuksesan baik dunia maupun akhirat. Konsep tersebut termaktub dalam Kitab Suci seluruh umat manusia, Al Quran Al Karim, dalam Surat           Al Qashas; 77.
وَابْتَغِ فِيْمَا آتَاكَ اللهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي اْلأرْضِ إنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ اْلمُفْسِدِيْنَ ۝
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
            Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa kehidupan harusnya memiliki keseimbangan, baik dunia maupun akhirat. Berusaha keras dalam pengabdian kepada Allah SWT melalui ibadah, untuk mempersiapkan kehidupan hakiki di akhirat kelak. Namun, tidak melupakan usaha-usaha untuk menggapai kenikmatan duniawi, sebagai bagian yang telah Allah SWT berikan kepada setiap hamba-Nya di dunia dan sebagai bekal menuju kebahagiaan akhirat nantinya.   
Sahabat ‘Amr bin ‘Ash dalam sebuah perkataannya pernah menyebutkan :
إعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّكَ تَعِيْشُ أبَدًا وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأنَّكَ تَمُوْتُ غَداً
Artinya : “Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati esok hari.”
                        Kemampuan untuk menjaga keseimbangan hidup inilah yang akan membawa manusia menuju kesuksesan, menjadi manusia unggul baik di kalangan penduduk bumi, maupun penduduk langit. Karena kemampuan tersebut juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menjalin hubungan baik dengan sesama manusia (hablun minannaas) dan menjaga komunikasi yang baik pula dengan Sang Pemilik alam semesta              (hablun minallah).
                        Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup tanpa bantuan sesamanya. oleh karena itu, ia harus selalu berusaha menjaga komunikasi yang kondusif dengan sesamanya dan sesama makhluk Allah SWT.
                        Di samping itu, keberadaannya sebagai makhluk spiritual juga mengharuskannya untuk selalu menjaga komunikasi intensif dengan Allah SWT sebagai Pencipta nya.
                        Maka, kesuksesan manusia, sejatinya dapat tercipta jika manusia itu mau dan mampu untuk selalu menjaga hubungannya, baik secara horizontal, maupun vertikal. sehingga setiap usaha yang ia perbuat di dunia ini mendapat dukungan penuh, tidak hanya dari penduduk bumi, melainkan juga dukungan dari para penduduk langit, dan Allah SWT.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّي يَأْتِيَكَ اْليَقِيْنُ
“Dan sembahlah Tuhan-mu hingga datang keyakinan kepadamu.”