Hatimu adalah cermin yang kotor. Bersihkanlah debu yang melekatinya, karena hati ditakdirkan untuk memantulkan cahaya hakikat Ilahi.
Jika cahaya dari Allah, yang merupakan cahaya langit dan bumi ... menerangi hatimu, ia akan menyalakan lentera hatimu, yang berada dalam kaca yang bening, dan kaca yang bening itu bersinar terang bagaikan bintang ... Dan, berkilaulah bintang Ilahi dalam hatimu. Kilauan ini memancar dari awan makna yang tak berasal dari Timur maupun Barat, menyala dari pohon zaitun ... cahaya itu memantul dari pohon itu, sangat jernih dan terang seolah-olah memancarkan cahaya meski tak disentuh api. Ketika itulah lentera hikmah menyala terang. Bagaimana mungkin ia padam jika cahaya Allah menerangi seluruh relungnya?
Hanya jika cahaya hakikat Ilahi menyinarinya, barulah langit malam hakikat menjadi terang disinari ribuan bintang ... dan dengan bintang gemintang (kau akan) temukan jalan (mu) ... Bukan bintang-bintang itu yang menunjukimu, melainkan cahaya Ilahi. Sebab Allah telah ... menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang. Hanya jika lentera hakikat ilahi dinyalakan dalam sanubarimu, segalanya akan datang, serempak seketika atau sedikit demi sedikit.
Kehadiran Ilahi akan menyirnakan sisi gelap kebodohan. Kedamaian dan keindahan purnama akan terbit dari ufuk cahaya di atas cahaya, yang senantiasa terbit di langit, melintasi garis edar yang telah ditakdirkan Allah sehingga ia bersinar megah di pusat langit, memecah kegelapan lalai.
(Syekh Abdul Qodir Al Jailani r.a)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar