Kalau
kita ingin mengenal kehebatan seorang arsitek, cara terbaik adalah dengan
melihat bangunan yang dirancangnya.
Kalau
kita ingin mengenal kehebatan seorang pelukis, maka kita bisa melihat seberapa
bagus kualitas lukisannya.
Begitu
pula bila ingin mengenal kebesaran Allah, maka kita bisa melihat kualitas
ciptaannya. Apa ciptaan Allah tersebut? Itulah alam semesta yang tercipta dan Al-Quran yang tertulis.
Ada
dua cara untuk mengenal kebesaran Allah, yaitu melalui zikir dan pikir.
Pikir sesungguhnya merupakan anugerah Allah yang hanya diberikan kepada
manusia. Dengan pemikiran, sesuatu yang tidak mungkin dapat berubah menjadi
mungkin. Ketika belum ada pesawat terbang, manusia saat itu berkesimpulan
bahwa, mustahil manusia akan bisa terbang. Sebuah kesimpulan yang logis karena
manusia memang tidak memiliki sayap. Tapi tidak demikian dengan Twin Oter
(pencipta pesawat pertama). Ditangkapnya seekor burung. Lalu dipelajarinya
sayap, ekor dan kaki. Ditimbangnya berat badan burung. Diperhitungkannya
kemampuan sayap mengangkat berat badan. Dianalisanya dengan cermat dan
terus-menerus dipikirkan, sehingga pada akhirnya manusiapun bisa terbang,
melebihi kemampuan terbangnya seekor burung. Tuan-tuan, manakah yang lebih
cepat terbangnya, burung garuda atau pesawat garuda ? Begitu pula ketika belum
ada kapal laut. Mustahil besi akan mengapung dipermukaan air. Jangankan besi
dengan berat berton-ton, besi sebesar kerikil saja bila dimasukkan kedalam air
sudah pasti akan tenggelam. Demikianlah argumentasi orang-orang terdahulu, yang
pada saat ini tentu sudah tidak relefan lagi. Kini kapal-kapal laut, termasuk
kapal-kapal tengker dengan bobot berpuluh ribu ton mengapung ditengah samudra
bagaikan gabus. Inilah kedahsyatan energi
pikir yang Allah anugerahkan hanya kepada
manusia.
Pikir
lebih berkaitan dengan aspek nalar. Semakin seseorang memahami ciptaan Allah, maka
akan semakin sadar pula akan kebesaran Allah. Karenanya, Al-Quran berulangkali merangsang
manusia untuk terus memikirkan semua itu. Beberapa ungkapan Alquran yang
menujukkan hal tersebut, la’allakum tattaqun, la’allakum tadzkurun.
Maksudnya Allah menyuruh manusia untuk melihat, merenungkan, dan mengkaji semua
ciptaan-Nya. Bahkan Prof Ahmad Salaby menyebutkan bahwa seperlima kandungan Al-Quran
berisi petunjuk agar manusia bisa mengkaji alam ini.
Kedua,
manusia tidak cukup hanya mengembangkan pikir. Manusia pun perlu zikir. Tanpa
zikir manusia bisa memiliki, tapi ia tidak akan menikmati. Manusia bisa sukses,
tapi ia tak akan bahagia. Maka, Al-Quran pun mendorong kita untuk mengembangkan
kemampun zikir. Zikir bisa dilakukan dengan jalan merenungkan dan menyebut
kebesaran Allah. Bila kita mampu mengembangkan dan menyeimbangkan dua hal ini dengan
baik, maka kita layak disebut ulil albab. Dalam QS. Ali Imran: 190-191
disebutkan karakteristik dari ulil albab.
إنَّ
فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّليْلِ وَالنَّهَارِ
لَآيَاتٍ لِأوْلِي اْلألْبَابِ
الذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا
وَقُعُوْدًا وَعَلَى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ
وَاْلأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil
albab, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau
dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan
bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini
dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka periharalah kami dari siksa neraka"
Sesungguhnya zikir adalah pembersih hati yang ternoda, penenang jiwa
yang gundah dan perekat ukhuwah yang tercerai. Zikir menumbuhkan perasaan cinta
kepada Allah, sedangkan cinta kepada Allah merupakan nur pemberi kekuatan. Nur
(cahaya) zikir senantiasa bersama dengan orang yang berzikir. Nur merupakan
sesuatu yang sangat agung. Ia menuntun manusia menuju kemajuan dan kejayaan.
Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam senantiasa memohon berulang-ulang agar
dianugerahi nur : “Ya Allah, berikanlah nur kepada dagingku, nur pada
tulang-tulangku, nur pada rambutku, nur pada kulitku, nur pada pendengaranku,
nur pada penglihatanku, nur di atasku, nur dibawahku, nur dikananku, nur
dikiriku, nur di depanku, nur di belakangku. Jadikanlah nur itu dalam diriku
dan besarkanlah nur itu untukku”. Maka dengan nur tersebut amal perbuatan
seseorang akan bercahaya terang benderang. Berdampak luas pada setiap sikap dan
perbuatan. Jika ia seorang pemimpin, nur akan membimbingnya untuk selalu
memberikan keteladanan. Sedangkan bagi mereka yang dipimpin, nur akan
membuatnya patuh-bersimpuh pada setiap kebenaran, sekaligus nur jualah yang
mengobarkan semangatnya untuk menentang setiap kebathilan.
Energi zikir yang ada pada diri manusia bila dikolaborasikan dengan energi pikir, sudah tentu akan menimbulkan kekuatan yang super dahsyat. Akan mampu
mengubah kehidupan yang gelap menjadi terang benderang. Mengubah yang lemah
menjadi kuat. Mengubah yang hina-dina menjadi terhormat-bermartabat. Inilah
yang pernah dipertunjukkan oleh Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.
Kesimpulannya, kesuksesan seorang manusia tidak bisa didapat hanya
dengan menggunakan kekuatan pikiran, karena kecerdasan akal tanpa dikolaborasikan
dengan kekuatan zikir akan menimbulkan bencana bagi diri sendiri dan alam
semesta.
"فَاعْتَبِرُوْا يَا
أوْلِي اْلألْبَابِ"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar