Senin, 23 Juli 2012

MENJADI MANUSIA UNGGUL DENGAN MENJAGA HUBUNGAN HORIZONTAL DAN VERTIKAL


Kesuksesan, tidak dapat dipungkiri, menjadi keinginan setiap manusia yang hidup di muka bumi ini. Meski begitu banyak sudut pandang dalam menilai arti dari sebuah kesuksesan. Ada yang menilai bahwa orang sukses adalah orang yang memiliki harta berlimpah, ada juga yang menilai bahwa orang yang sukses adalah orang yang mencapai pendidikan yang tinggi, ada pula yang memandang sebuah kesuksesan dari segi ketenangan dalam menjalani samudera hidup ini.

            Allah SWT telah menjelaskan dalam Firman-Nya bahwa tujuan penciptaan setiap manusia adalah beribadah kepada-Nya, hal tersebut tersurat dalam QS. Az-Zariyat; 56 :

وَمَا خَلَقْتُ اْلجِنَّ وَاْلإنْسَ إلَّا لِيَعْبُدُوْنِ (الذاريات : ٥٦)
Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

                Ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan utama dari hadirnya manusia ke dunia ini adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. Maka jika ada manusia yang tidak beribadah dalam perjalanan kehidupannya, sungguh dia telah melupakan hakikat hidupnya di dunia.
            Ibadah merupakan tujuan hidup manusia, namun bukan berarti bahwa manusia selama hidupnya hanya dituntut untuk melakukan ibadah terus menerus dan melupakan urusan dunianya.
            Akhirat memang merupakan tujuan akhir dari perjalanan kehidupan manusia. jika diibaratkan sebuah perjalanan mudik seseorang dari jakarta ke Surabaya, maka Kota Yogyakarta bisa diibaratkan sebagai dunia dalam hidup manusia, yaitu hanya sebuah persinggahan sementara. Maka apakah orang tersebut akan lama terlena di kota Yogyakarta, jika tujuan mudiknya adalah Surabaya?
            Islam, dalam hal ini, menawarkan sebuah konsep yang dapat dijadikan pegangan manusia dalam menjalani kehidupan yang penuh keridhaan Allah SWT, juga mampu mengarahkan manusia menuju kesuksesan baik dunia maupun akhirat. Konsep tersebut termaktub dalam Kitab Suci seluruh umat manusia, Al Quran Al Karim, dalam Surat           Al Qashas; 77.
وَابْتَغِ فِيْمَا آتَاكَ اللهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي اْلأرْضِ إنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ اْلمُفْسِدِيْنَ ۝
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
            Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa kehidupan harusnya memiliki keseimbangan, baik dunia maupun akhirat. Berusaha keras dalam pengabdian kepada Allah SWT melalui ibadah, untuk mempersiapkan kehidupan hakiki di akhirat kelak. Namun, tidak melupakan usaha-usaha untuk menggapai kenikmatan duniawi, sebagai bagian yang telah Allah SWT berikan kepada setiap hamba-Nya di dunia dan sebagai bekal menuju kebahagiaan akhirat nantinya.   
Sahabat ‘Amr bin ‘Ash dalam sebuah perkataannya pernah menyebutkan :
إعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّكَ تَعِيْشُ أبَدًا وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأنَّكَ تَمُوْتُ غَداً
Artinya : “Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati esok hari.”
                        Kemampuan untuk menjaga keseimbangan hidup inilah yang akan membawa manusia menuju kesuksesan, menjadi manusia unggul baik di kalangan penduduk bumi, maupun penduduk langit. Karena kemampuan tersebut juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menjalin hubungan baik dengan sesama manusia (hablun minannaas) dan menjaga komunikasi yang baik pula dengan Sang Pemilik alam semesta              (hablun minallah).
                        Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup tanpa bantuan sesamanya. oleh karena itu, ia harus selalu berusaha menjaga komunikasi yang kondusif dengan sesamanya dan sesama makhluk Allah SWT.
                        Di samping itu, keberadaannya sebagai makhluk spiritual juga mengharuskannya untuk selalu menjaga komunikasi intensif dengan Allah SWT sebagai Pencipta nya.
                        Maka, kesuksesan manusia, sejatinya dapat tercipta jika manusia itu mau dan mampu untuk selalu menjaga hubungannya, baik secara horizontal, maupun vertikal. sehingga setiap usaha yang ia perbuat di dunia ini mendapat dukungan penuh, tidak hanya dari penduduk bumi, melainkan juga dukungan dari para penduduk langit, dan Allah SWT.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّي يَأْتِيَكَ اْليَقِيْنُ
“Dan sembahlah Tuhan-mu hingga datang keyakinan kepadamu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar