Rabu, 12 September 2012

MENUJU CAHAYA ILAHI

Sahabatku,
Hatimu adalah cermin yang kotor. Bersihkanlah debu yang melekatinya, karena hati ditakdirkan untuk memantulkan cahaya hakikat Ilahi.
          Jika cahaya dari Allah, yang merupakan cahaya langit dan bumi ... menerangi hatimu, ia akan menyalakan lentera hatimu, yang berada dalam kaca yang bening, dan kaca yang bening itu bersinar terang bagaikan bintang ... Dan, berkilaulah bintang Ilahi dalam hatimu. Kilauan ini memancar dari awan makna yang tak berasal dari Timur maupun Barat, menyala dari pohon zaitun ... cahaya itu memantul dari pohon itu, sangat jernih dan terang seolah-olah memancarkan cahaya meski tak disentuh api. Ketika itulah lentera hikmah menyala terang. Bagaimana mungkin ia padam jika cahaya Allah menerangi seluruh relungnya?
          Hanya jika cahaya hakikat Ilahi menyinarinya, barulah langit malam hakikat menjadi terang disinari ribuan bintang ... dan dengan bintang gemintang (kau akan) temukan jalan (mu) ... Bukan bintang-bintang itu yang menunjukimu, melainkan cahaya Ilahi. Sebab Allah telah ... menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang. Hanya jika lentera hakikat ilahi dinyalakan dalam sanubarimu, segalanya akan datang, serempak seketika atau sedikit demi sedikit.
          Kehadiran Ilahi akan menyirnakan sisi gelap kebodohan. Kedamaian dan keindahan purnama akan terbit dari ufuk cahaya di atas cahaya, yang senantiasa terbit di langit, melintasi garis edar yang telah ditakdirkan Allah sehingga ia bersinar megah di pusat langit, memecah kegelapan lalai.

(Syekh Abdul Qodir Al Jailani r.a)

Sabtu, 28 Juli 2012

LAKON KEHIDUPAN

      Manusia ibarat wayang yang dimainkan oleh Sang Maha Dalang. keberadaan maupun ketidakberadaannya di samudera hidup ini tergantung keinginan Sang Dalang kehidupan. Lakonnya pun beragam, ada yang diberi lakon sebagai orang baik, penjahat, dermawan, kikir, kaya, miskin, dll.
     Perjalanan sang wayang dalam meniti jalan kehidupan ini pun beragam, ada yang lurus bak jembatan shirotol mustaqim, ada juga yang penuh lika-liku dan kerikil tajam yang harus dilaluinya.
     Seberapa beragampun lakon yang kita jalani, pastinya cuma satu tujuan hakiki, bertemu Sang Dalang kehidupan, kembali bersatu dengan Sang Pemilik Ruh kehidupan.

"Hidup ini adalah pencarian, beruntunglah orang yang berusaha mencari arti kebenaran dalam hidup yang fana ini, dan merugilah orang yang terlena berdiam diri menanti lakonnya dihilangkan oleh Sang Dalang."

"فاعتبروا يا أولي الألباب"

Senin, 23 Juli 2012

MENGENAL ALLAH SWT LEWAT ZIKIR DAN PIKIR

Kalau kita ingin mengenal kehebatan seorang arsitek, cara terbaik adalah dengan melihat bangunan yang dirancangnya.
Kalau kita ingin mengenal kehebatan seorang pelukis, maka kita bisa melihat seberapa bagus kualitas lukisannya.
Begitu pula bila ingin mengenal kebesaran Allah, maka kita bisa melihat kualitas ciptaannya. Apa ciptaan Allah tersebut? Itulah alam semesta yang tercipta dan  Al-Quran yang tertulis.
Ada dua cara untuk mengenal kebesaran Allah, yaitu melalui zikir dan pikir. Pikir sesungguhnya merupakan anugerah Allah yang hanya diberikan kepada manusia. Dengan pemikiran, sesuatu yang tidak mungkin dapat berubah menjadi mungkin. Ketika belum ada pesawat terbang, manusia saat itu berkesimpulan bahwa, mustahil manusia akan bisa terbang. Sebuah kesimpulan yang logis karena manusia memang tidak memiliki sayap. Tapi tidak demikian dengan Twin Oter (pencipta pesawat pertama). Ditangkapnya seekor burung. Lalu dipelajarinya sayap, ekor dan kaki. Ditimbangnya berat badan burung. Diperhitungkannya kemampuan sayap mengangkat berat badan. Dianalisanya dengan cermat dan terus-menerus dipikirkan, sehingga pada akhirnya manusiapun bisa terbang, melebihi kemampuan terbangnya seekor burung. Tuan-tuan, manakah yang lebih cepat terbangnya, burung garuda atau pesawat garuda ? Begitu pula ketika belum ada kapal laut. Mustahil besi akan mengapung dipermukaan air. Jangankan besi dengan berat berton-ton, besi sebesar kerikil saja bila dimasukkan kedalam air sudah pasti akan tenggelam. Demikianlah argumentasi orang-orang terdahulu, yang pada saat ini tentu sudah tidak relefan lagi. Kini kapal-kapal laut, termasuk kapal-kapal tengker dengan bobot berpuluh ribu ton mengapung ditengah samudra bagaikan gabus. Inilah kedahsyatan energi pikir yang Allah anugerahkan hanya kepada manusia.
Pikir lebih berkaitan dengan aspek nalar. Semakin seseorang memahami ciptaan Allah, maka akan semakin sadar pula akan kebesaran Allah. Karenanya, Al-Quran berulangkali merangsang manusia untuk terus memikirkan semua itu. Beberapa ungkapan Alquran yang menujukkan hal tersebut, la’allakum tattaqun, la’allakum tadzkurun. Maksudnya Allah menyuruh manusia untuk melihat, merenungkan, dan mengkaji semua ciptaan-Nya. Bahkan Prof Ahmad Salaby menyebutkan bahwa seperlima kandungan Al-Quran berisi petunjuk agar manusia bisa mengkaji alam ini.
Kedua, manusia tidak cukup hanya mengembangkan pikir. Manusia pun perlu zikir. Tanpa zikir manusia bisa memiliki, tapi ia tidak akan menikmati. Manusia bisa sukses, tapi ia tak akan bahagia. Maka, Al-Quran pun mendorong kita untuk mengembangkan kemampun zikir. Zikir bisa dilakukan dengan jalan merenungkan dan menyebut kebesaran Allah. Bila kita mampu mengembangkan dan menyeimbangkan dua hal ini dengan baik, maka kita layak disebut ulil albab. Dalam QS. Ali Imran: 190-191 disebutkan karakteristik dari ulil albab.
إنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّليْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأوْلِي اْلألْبَابِ   ۝ الذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُوْدًا وَعَلَى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ۝
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil albab, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka periharalah kami dari siksa neraka"
Sesungguhnya zikir adalah pembersih hati yang ternoda, penenang jiwa yang gundah dan perekat ukhuwah yang tercerai. Zikir menumbuhkan perasaan cinta kepada Allah, sedangkan cinta kepada Allah merupakan nur pemberi kekuatan. Nur (cahaya) zikir senantiasa bersama dengan orang yang berzikir. Nur merupakan sesuatu yang sangat agung. Ia menuntun manusia menuju kemajuan dan kejayaan. Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam senantiasa memohon berulang-ulang agar dianugerahi nur : “Ya Allah, berikanlah nur kepada dagingku, nur pada tulang-tulangku, nur pada rambutku, nur pada kulitku, nur pada pendengaranku, nur pada penglihatanku, nur di atasku, nur dibawahku, nur dikananku, nur dikiriku, nur di depanku, nur di belakangku. Jadikanlah nur itu dalam diriku dan besarkanlah nur itu untukku”. Maka dengan nur tersebut amal perbuatan seseorang akan bercahaya terang benderang. Berdampak luas pada setiap sikap dan perbuatan. Jika ia seorang pemimpin, nur akan membimbingnya untuk selalu memberikan keteladanan. Sedangkan bagi mereka yang dipimpin, nur akan membuatnya patuh-bersimpuh pada setiap kebenaran, sekaligus nur jualah yang mengobarkan semangatnya untuk menentang setiap kebathilan.
Energi zikir yang ada pada diri manusia bila dikolaborasikan dengan energi pikir, sudah tentu akan menimbulkan kekuatan yang super dahsyat. Akan mampu mengubah kehidupan yang gelap menjadi terang benderang. Mengubah yang lemah menjadi kuat. Mengubah yang hina-dina menjadi terhormat-bermartabat. Inilah yang pernah dipertunjukkan oleh Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.
Kesimpulannya, kesuksesan seorang manusia tidak bisa didapat hanya dengan menggunakan kekuatan pikiran, karena kecerdasan akal tanpa dikolaborasikan dengan kekuatan zikir akan menimbulkan bencana bagi diri sendiri dan alam semesta.

"فَاعْتَبِرُوْا يَا أوْلِي اْلألْبَابِ"

MENJADI MANUSIA UNGGUL DENGAN MENJAGA HUBUNGAN HORIZONTAL DAN VERTIKAL


Kesuksesan, tidak dapat dipungkiri, menjadi keinginan setiap manusia yang hidup di muka bumi ini. Meski begitu banyak sudut pandang dalam menilai arti dari sebuah kesuksesan. Ada yang menilai bahwa orang sukses adalah orang yang memiliki harta berlimpah, ada juga yang menilai bahwa orang yang sukses adalah orang yang mencapai pendidikan yang tinggi, ada pula yang memandang sebuah kesuksesan dari segi ketenangan dalam menjalani samudera hidup ini.

            Allah SWT telah menjelaskan dalam Firman-Nya bahwa tujuan penciptaan setiap manusia adalah beribadah kepada-Nya, hal tersebut tersurat dalam QS. Az-Zariyat; 56 :

وَمَا خَلَقْتُ اْلجِنَّ وَاْلإنْسَ إلَّا لِيَعْبُدُوْنِ (الذاريات : ٥٦)
Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

                Ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan utama dari hadirnya manusia ke dunia ini adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. Maka jika ada manusia yang tidak beribadah dalam perjalanan kehidupannya, sungguh dia telah melupakan hakikat hidupnya di dunia.
            Ibadah merupakan tujuan hidup manusia, namun bukan berarti bahwa manusia selama hidupnya hanya dituntut untuk melakukan ibadah terus menerus dan melupakan urusan dunianya.
            Akhirat memang merupakan tujuan akhir dari perjalanan kehidupan manusia. jika diibaratkan sebuah perjalanan mudik seseorang dari jakarta ke Surabaya, maka Kota Yogyakarta bisa diibaratkan sebagai dunia dalam hidup manusia, yaitu hanya sebuah persinggahan sementara. Maka apakah orang tersebut akan lama terlena di kota Yogyakarta, jika tujuan mudiknya adalah Surabaya?
            Islam, dalam hal ini, menawarkan sebuah konsep yang dapat dijadikan pegangan manusia dalam menjalani kehidupan yang penuh keridhaan Allah SWT, juga mampu mengarahkan manusia menuju kesuksesan baik dunia maupun akhirat. Konsep tersebut termaktub dalam Kitab Suci seluruh umat manusia, Al Quran Al Karim, dalam Surat           Al Qashas; 77.
وَابْتَغِ فِيْمَا آتَاكَ اللهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي اْلأرْضِ إنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ اْلمُفْسِدِيْنَ ۝
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
            Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa kehidupan harusnya memiliki keseimbangan, baik dunia maupun akhirat. Berusaha keras dalam pengabdian kepada Allah SWT melalui ibadah, untuk mempersiapkan kehidupan hakiki di akhirat kelak. Namun, tidak melupakan usaha-usaha untuk menggapai kenikmatan duniawi, sebagai bagian yang telah Allah SWT berikan kepada setiap hamba-Nya di dunia dan sebagai bekal menuju kebahagiaan akhirat nantinya.   
Sahabat ‘Amr bin ‘Ash dalam sebuah perkataannya pernah menyebutkan :
إعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّكَ تَعِيْشُ أبَدًا وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأنَّكَ تَمُوْتُ غَداً
Artinya : “Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati esok hari.”
                        Kemampuan untuk menjaga keseimbangan hidup inilah yang akan membawa manusia menuju kesuksesan, menjadi manusia unggul baik di kalangan penduduk bumi, maupun penduduk langit. Karena kemampuan tersebut juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menjalin hubungan baik dengan sesama manusia (hablun minannaas) dan menjaga komunikasi yang baik pula dengan Sang Pemilik alam semesta              (hablun minallah).
                        Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup tanpa bantuan sesamanya. oleh karena itu, ia harus selalu berusaha menjaga komunikasi yang kondusif dengan sesamanya dan sesama makhluk Allah SWT.
                        Di samping itu, keberadaannya sebagai makhluk spiritual juga mengharuskannya untuk selalu menjaga komunikasi intensif dengan Allah SWT sebagai Pencipta nya.
                        Maka, kesuksesan manusia, sejatinya dapat tercipta jika manusia itu mau dan mampu untuk selalu menjaga hubungannya, baik secara horizontal, maupun vertikal. sehingga setiap usaha yang ia perbuat di dunia ini mendapat dukungan penuh, tidak hanya dari penduduk bumi, melainkan juga dukungan dari para penduduk langit, dan Allah SWT.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّي يَأْتِيَكَ اْليَقِيْنُ
“Dan sembahlah Tuhan-mu hingga datang keyakinan kepadamu.”

Senin, 24 Januari 2011

Akhlak Islami

BERAKHLAK DENGAN AKHLAK ALLAH SWT
Oleh : Helmi Noor Irsyada, S.PdI

Berakhlak dengan akhlak Allah SWT. Sebelum membahas tentang apa dan bagaimana berakhlak dengan akhlak Allah SWT, kita pahami dulu pengertian akhlak baik dari segi bahasa maupun dari segi istilah.
Dilihat dari segi etimologi, perkataan akhlak berasal dari bahasa Arab adalah bentuk jama’ dari kata khulk, yang di dalam kamus Al Munjid berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat (Al Munjid : 194).
Menurut Imam Al Ghazali “kata Al Khalqu [ciptaan, makhluk] dan Al Khuluqu [budi pekerti] itu adalah dua ibarat yang dipergunakan bersama-sama... . Yang dimaksud dengan Al Khalqu adalah bentuk lahiriah dan yang dimaksud dengan Al Khuluqu adalah bentuk batiniah.” (Al Ghazali; 1994 : Jld.5 : 107).
Jika ditinjau dari segi epistimologi kata akhlak dapat diartikan sebagai “ungkapan tentang sikap jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu” (Binbaga Islam ; 1992). Senada dengan pengertian di atas, Imam Al Ghazali di dalam kitab Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa akhlak adalah “suatu ibarat tentang keadaan dalam jiwa yang menetap di dalamnya. Dari keadaan dalam jiwa itu muncul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tanpa memerlukan pemikiran dan penelitian” (Al Ghazali; 1994 : Jld. 5 : 108).
Setelah memahami pengertian akhlak tersebut maka dapat kita simpulkan, bahwa akhlak atau budi pekerti adalah sikap atau perbuatan yang muncul secara reflect dari diri seseorang tanpa pertimbangan pikiran terlebih dahulu, baik itu merupakan akhlak madzmumah (tercela) maupun akhlak karimah (mulia).
Sekarang kita coba membahas, apa, kenapa, dan bagaimana berakhlak dengan akhlak Allah SWT?. Berakhlak dengan akhlak Allah SWT berarti menghadirkan sifat-sifat Allah di dalam semua sifat, sikap, dan amal perbuatan kita sehari-hari. Salah satu contohnya adalah menghadirkan sifat Ar Rahman (Maha Pengasih) Allah SWT di dalam sikap kita, saat melihat sahabat yang sedang mengalami kesulitan, maka orang yang berakhlak dengan sifat Allah (Ar Rahman) akan dengan segera membantu orang tersebut, tanpa memikirkan keuntungan atau kerugian yang akan ia dapatkan dari membantu sahabatnya tersebut.
Setelah tau apa yang dimaksud berakhlak dengan akhlak Allah SWT, mari kita coba telusuri Kenapa Kita Harus Berakhlak dengan Akhlak Allah SWT?. Sebagai seorang makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT, manusia diberi beberapa kelebihan dibanding makhluk lain, pertama, manusia diciptakan dalam bentuk yang paling baik, seperti yang dijelaskan dalam QS. At Tiin; 4 berikut :
 لَقَدْ خَلقْنَا الإنْسَـانَ فِي أحْسَنِ تَقْوِيم ٍ
Artinya : ”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” .
Kedua, manusia diberi kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan buruk serta diberi hak untuk menentukan jalan hidupnya masing-masing. Hal tersebut tergambar di dalam QS. Asy Syams; 8 berikut :
فَألْهَمَهَا فُجُـورَهَا وَتَقوٰهَا 
Artinya : ”Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”.
Dari kelebihan yang kedua tersebutlah yang menjadi acuan kenapa manusia harus memiliki akhlak atau budi pekerti yang mulia, karena setiap manusia memiliki potensi untuk berbuat kerusakan maupun kebaikan. Maka siapa lagi yang patut dijadikan contoh di dalam kesempurnaan sifat selain Dzat Pemilik segala kebaikan dan kesempurnaan, Dialah Allah SWT Tuhan semesta alam. Seperti yang disabdakan Rasulullah saw :
تَخَـلَّقُوا بِأخْلاَقِ اللهِ
Artinya : “Berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah SWT”.
Setelah memahami apa dan kenapa berakhlak dengan akhlak Allah SWT, mari kita kaji bagaimana caranya?. Setidaknya ada dua cara yang dapat kita lakukan untuk menerapkan Akhlak atau sifat-sifat Allah di dalam diri kita.
Yang pertama, memahami semua sifat baik yang dimiliki Allah SWT dalam Asmaul Husna dan menerapkannya dalam sikap dan perilaku kita sehari-hari. Mungkin akan timbul pertanyaan, apakah mungkin seorang manusia (makhluk) menerapkan sifat-sifat Allah dalam sikap dan perilakunya sehari-hari?. Jawabannya adalah sangat mungkin dan pasti bisa.
Sekarang coba kita kaji beberapa sifat mulia yang terkandung di dalam Asmaul Husna. Pertama, Ar Rahman dan Ar Rahim, bukankah setiap manusia sangat ingin dicintai dan dikasihi? Maka apakah tidak mungkin seseorang yang sangat mencintai rasa kasih dan sayang membagikan rasa tersebut kepada orang-orang di sekelilingnya?. Kedua, As Salam (Maha Pemberi keselamatan), bukankan naluri dasar manusia untuk hidup dalam keadaan aman dan tentram, terbebas dari rasa takut akan keselamatan diri dan keluarganya? Maka apakah tidak mungkin seseorang yang sangat menginginkan keselamatan dan keamanan bagi dirinya, membagikan rasa itu untuk orang lain di sekitarnya?. Ketiga, Al ‘Adlu (Maha Adil). Hampir dapat dipastikan seluruh manusia yang ada di dunia ini ingin diperlakukan secara adil dalam hal apapun. Maka hal tersebut merupakan hal yang sangat mungkin dimunculkan dalam sikap setiap manusia yang ingin berakhlak mengikuti akhlak Allah SWT.
Kuncinya adalah bahwa setiap manusia diciptakan dengan Ruh Allah SWT di dalamnya, maka sudah menjadi naluri dasar manusia untuk mencintai hal-hal baik yang tercermin dalam sifat-sifat Allah di dalam Asmaul Husna, hanya saja potensi manusia untuk berbuat hal-hal fasiklah yang terkadang menutupinya dari sifat-sifat mulia tersebut. Allah SWT berfirman di dalam hadits qudsi tentang proses penciptaan manusia :
وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُوْحِي
Artinya : “Dan Aku tiupkan Ruhku ke dalam jasad tersebut”.
Cara kedua untuk menerapkan akhlak Allah dalam perilaku kita sehari-hari adalah dengan mencontoh akhlak dan perilaku Rasulullah saw. Kenapa Rasulullah? Karena Rasulullah saw adalah makhluk mulia yang berakhlak dengan Al Quran, hal tersebut diterangkan dalam ucapan istri beliau sayyidah Aisyah ra. ketika ditanya oleh salah seorang sahabat perihal akhlak Rasulullah saw, maka Aisyah pun menjawab :
كَانَ أخْلاَقُهُ القُرْأن
Artinya : “Akhlak Rasulullah saw adalah Al Quran Al Karim”.
Jika melihat jawaban Sayyidah Aisyah tersebut maka dapat kita pahami bahwa manusia paling mulia yang ditegaskan Allah SWT di dalam Al Quran sebagai Uswah Hasanah bagi seluruh manusia berakhlak dengan Al Quran. Apa maksudnya? Maksudnya adalah bahwa semua sifat, sikap, dan perilaku Rasulullah tidak ada yang bertentangan dengan Al Quran atau dengan kata lain Rasulullah pun berakhlak dengan akhlak Allah SWT, karena Al Quran adalah firman Allah SWT.
Cara kedua mungkin adalah cara yang paling mudah untuk diaplikasikan bagi kita semua, karena walaupun kita tidak pernah bertemu dengan Rasulullah saw, namun berbagai keterangan dan kisah tentang gambaran sifat dan perilaku beliau telah sering kita dengar ataupun kita baca, baik dalam Al Quran maupun berbagai literatur sejarah. Sedangkan cara yang pertama akan sedikit sulit untuk kita terapkan, karena Dzat Allah SWT Yang Maha abstrak tidak mungkin dapat digambarkan oleh pikiran manusia yang penuh dengan keterbatasan. Namun, apapun cara yang ditempuh akan bermuara pada satu tujuan, yaitu sifat-sifat mulia nan indah yang dimiliki oleh Dzat Pemilik segala keindahan, Allah SWT.
Mencontoh akhlak Rasulullah saw merupakan suatu hal mutlak yang tidak dapat ditawar lagi bagi setiap muslim yang mengaku beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Karena Allah SWT dengan tegas telah mengatakan di dalam Al Quran surat Al Ahzab ayat 21 :
لَـقَدْ كَانَ لكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أسْوَةٌ حَسَنَة .... 
Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu …”
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah adalah contoh yang paling tepat untuk diikuti, karena beliau sebagai seorang manusia pilihan telah dibekali dengan berbagai sifat mulia, di antaranya adalah sifat beliau yang empat : Shiddiq, tabligh, amanah, dan fathonah.
Rasulullah saw sudah terkenal sebagai pribadi yang jujur (Shiddiq) jauh sebelum beliau dinobatkan sebagai Rasul Allah. Sejak kecil beliau terkenal karena kejujuran dan sifat amanahnya, hingga seorang saudagar kaya bernama Khodijah tertarik untuk menjadi istri beliau. Bukan penampilan fisik dan harta kekayaan yang menjadi modal beliau untuk dihormati orang (meski sejarah menyatakan bahwa Muhammad saw adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah rupawan. Bahkan dapat dipastikan tidak ada satu wanitapun yang akan menolak beliau untuk diperistri), melainkan sifat-sifat terpuji yang menjadikan banyak orang tertarik kepada beliau sehingga mau menjadi pengikut setia beliau dalam menyebarkan ajaran Islam.
Selain empat sifat utama beliau, masih banyak sifat beliau yang dapat kita contoh dan wajib kita terapkan dalam sikap dan perilaku kita sehari-hari, di antaranya : Rasulullah adalah seorang pemimpin yang demokratis dan tidak diskriminatif, beliau tidak pernah membedakan suku, bangsa, bahasa, warna kulit, bahkan agama. Beliau merangkul semua kalangan dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Namun jika sudah bersinggungan dengan masalah akidah (keyakinan) maka beliau tidak akan bertoleransi dengan siapapun. Seperti saat beliau diajak berkompromi oleh kafir Quraisy untuk berhenti menyebarkan agama Islam dan akan diberikan apasaja yang beliau inginkan, maka Rasulullah saw pun menjawab : “Andai saja mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, niscaya tidak akan menghentikanku untuk tetap menyeru kepada syariat Allah SWT”.
Ketegasan dan sifat kasih sayang beliau dapat kita lihat dalam firman Allah di dalam QS. Al Fath; 29 berikut :
مُحَمَّـدٌ رَّسُولُ اللهِ قلي وَالذِيْنَ مَعَهُ أشِـدَّاۤءُ عَليَ الكُفـَّارِ رُحَمَـۤـاءُ بَيْنَهُمْ
Artinya : “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka...”.
Rasulullah saw juga merupakan pribadi yang penyabar dan penuh cinta kepada siapapun, tidak hanya kepada kerabat, sahabat, bahkan seorang pengemis yahudi buta yang selalu mencaci dan memaki beliau setiap haripun tetap beliau kasihi dan sayangi. Hingga pada suatu ketika setelah beliau wafat, sahabat yang juga ayah mertua beliau, Abu Bakar As Shiddiq, bertanya kepada Aisyah istri Rasulullah : Hai putriku, apakah amalan Rasulullah selama hidup yang belum pernah aku lakukan? Aisyahpun menjawab: engkau adalah ahli ibadah wahai ayahanda, engkau selalu melaksanakan yang wajib dan menunaikan yang sunnah, namun ada satu kebiasaan Rasulullah saw yang belum engkau lakukan, yaitu Rasul saw setiap pagi selalu pergi ke suatu pasar untuk memberi makan seorang pengemis buta. Maka keesokan harinya Abu Bakar pergi ke pasar tersebut untuk mencari sang pengemis, saat menemukannya iapun memberikan makanan yang ia bawa kepada pengemis tersebut. Namun si pengemis menolak makan yang Abu Bakar berikan, seraya bertanya, siapakah engkau? Abu Bakar pun menjawab : aku adalah orang yang memberikan makanan kepadamu setiap harinya. Pengemis itu kembali berkata : bukan, engkau bukan orang yang biasa memberiku makanan. Orang yang biasa memberiku makanan tidak pernah membiarkan tangan ini lelah untuk menyuap makanan, karena ia selalu menyuapiku dengan tangannya sendiri. Kemudian Abu Bakarpun berkata : memang benar, aku bukanlah orang yang biasa memberikan makanan kepadamu, karena orang tersebut telah meninggal dunia. Namun tahukah engkau siapa orang tersebut? Orang tersebut adalah Muhammad Rasulullah saw, orang yang selalu engkau caci dan engkau hardik setiap harinya, meski beliau tengah menyuapi engkau makanan. Mendengar ucapan Abu Bakar tersebut si pengemis menangis, ternyata orang yang setiap hari ia caci tanpa henti adalah orang yang selalu memberikan makanan kepadanya dengan tangannya sendiri.Iapun mengucapkan dua kalimat syahadat seketika itu di hadapan Abu Bakar As Shiddiq Betapa mulia akhlak Rasulullah saw, menghadapi orang yang menghardik dan menghinanya beliau tetap berpegang teguh dengan kesabaran dan kasih sayangnya. Maka di manakah kita yang mengaku sebagai pengikut setia beliau?, di manakah rasa kasih sayang dan kepedulian kita saat melihat saudara, tetangga, dan sahabat kita yang kesulitan?.
Dari pembahasan yang singkat tersebut mungkin dapat kita tarik beberapa kesimpulan :
1. Akhlak adalah pondasi utama untuk membentuk sebuah generasi super yang siap berkompetisi dalam segala bidang. Karena ilmu tanpa akhlak adalah bencana. Berapa banyak orang pintar di negeri ini yang kepintarannya hanya digunakan untuk menindas rakyat kecil, korupsi dan skandal-skandal seksual para pejabat dan publik figur, yang jika dikaji lebih dalam penyebab utamanya adalah kemerosotan moral dan akhlak. Oleh karena itu Ilmu + Akhlak + (Iman) = Insan Kamil (manusia sempurna dan pribadi matang yang mampu berkompetisi dalam berbagai bidang kehidupan).
2. Akhlak adalah suatu kebiasaan yang perlu dibentuk baik secara internal (niat dan motivasi pribadi) maupun eksternal (pengaruh dan dorongan orang lain atau lingkungan sekitar).
3. Berakhlak mengikuti akhlak Allah dan Rasul-Nya merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim, karena merupakan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Serta merupakan sifat naluriah setiap manusia yang selalu menginkan kebaikan, keselamatan, keamanan, dan kenyamaan dalam hidupnya, yang kesemua itu dapat diwujudkan dengan Al Akhlaqul Karimah (akhlak mulia).
4. Sebagai pelengkap materi ini, mari kita lihat nasehat seorang hamba Allah yang penuh keimanan dan ketakwaan, Luqman, kepada anaknya, yang tercantum di dalam QS. Luqman ayat 13 – 19, yang dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Wahai anakku: janganlah engkau menyekutukan Allah SWT, sesungguhnya syirik itu merupakan kezaliman (dosa) yang sangat besar.
2. Bersyukurlah kepada Allah dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu, terutama ibumu yang telah mengandungmu selama sembilan bulan dengan susah payah.
3. Wahai anakku, sesungguhnya setiap perbuatan yang dilakukan manusia sekecil apapun akan dibalas oleh Allah SWT di akhirat kelak.
4. Wahai anakku : dirikanlah shalat, serulah manusia untuk berbuat kebajikan dan cegahlah mereka dari perbuatan yang munkar. Serta bersabarlah dari segala sesuatu yang menimpamu, karena sesungguhnya semua itu termasuk hal-hal yang diwajibkan Allah SWT.
5. Wahai anakku : Janganlah kamu memalingkan mukamu dari orang lain (karena sombong) dan janganlah berjalan di muka bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
6. Wahai anakku : sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkan suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.