Kesuksesan,
tidak dapat dipungkiri, menjadi keinginan setiap manusia yang hidup di muka
bumi ini. Meski begitu banyak sudut pandang dalam menilai arti dari sebuah
kesuksesan. Ada yang menilai bahwa orang sukses adalah orang yang memiliki
harta berlimpah, ada juga yang menilai bahwa orang yang sukses adalah orang
yang mencapai pendidikan yang tinggi, ada pula yang memandang sebuah kesuksesan
dari segi ketenangan dalam menjalani samudera hidup ini.
Allah SWT telah menjelaskan dalam
Firman-Nya bahwa tujuan penciptaan setiap manusia adalah beribadah kepada-Nya,
hal tersebut tersurat dalam QS. Az-Zariyat; 56 :
وَمَا خَلَقْتُ
اْلجِنَّ وَاْلإنْسَ إلَّا لِيَعْبُدُوْنِ (الذاريات : ٥٦)
Artinya : “Dan
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan
utama dari hadirnya manusia ke dunia ini adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT.
Maka jika ada manusia yang tidak beribadah dalam perjalanan kehidupannya,
sungguh dia telah melupakan hakikat hidupnya di dunia.
Ibadah merupakan
tujuan hidup manusia, namun bukan berarti bahwa manusia selama hidupnya hanya
dituntut untuk melakukan ibadah terus menerus dan melupakan urusan dunianya.
Akhirat memang
merupakan tujuan akhir dari perjalanan kehidupan manusia. jika diibaratkan
sebuah perjalanan mudik seseorang dari jakarta ke Surabaya, maka Kota
Yogyakarta bisa diibaratkan sebagai dunia dalam hidup manusia, yaitu hanya
sebuah persinggahan sementara. Maka apakah orang tersebut akan lama terlena di
kota Yogyakarta, jika tujuan mudiknya adalah Surabaya?
Islam, dalam hal
ini, menawarkan sebuah konsep yang dapat dijadikan pegangan manusia dalam
menjalani kehidupan yang penuh keridhaan Allah SWT, juga mampu mengarahkan
manusia menuju kesuksesan baik dunia maupun akhirat. Konsep tersebut termaktub
dalam Kitab Suci seluruh umat manusia, Al Quran Al Karim, dalam Surat Al Qashas; 77.
وَابْتَغِ
فِيْمَا آتَاكَ اللهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
وَأحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي اْلأرْضِ إنَّ
اللهَ لَا يُحِبُّ اْلمُفْسِدِيْنَ
Artinya : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah
telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Dari ayat tersebut dapat dipahami
bahwa kehidupan harusnya memiliki keseimbangan, baik dunia maupun akhirat.
Berusaha keras dalam pengabdian kepada Allah SWT melalui ibadah, untuk
mempersiapkan kehidupan hakiki di akhirat kelak. Namun, tidak melupakan
usaha-usaha untuk menggapai kenikmatan duniawi, sebagai bagian yang telah Allah
SWT berikan kepada setiap hamba-Nya di dunia dan sebagai bekal menuju
kebahagiaan akhirat nantinya.
Sahabat ‘Amr bin ‘Ash dalam sebuah
perkataannya pernah menyebutkan :
إعْمَلْ
لِدُنْيَاكَ كَأنَّكَ تَعِيْشُ أبَدًا وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأنَّكَ تَمُوْتُ غَداً
Artinya : “Bekerjalah untuk duniamu
seakan kamu akan hidup selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seakan kamu
akan mati esok hari.”
Kemampuan untuk menjaga keseimbangan
hidup inilah yang akan membawa manusia menuju kesuksesan, menjadi manusia
unggul baik di kalangan penduduk bumi, maupun penduduk
langit. Karena kemampuan tersebut juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk
menjalin hubungan baik dengan sesama manusia (hablun minannaas) dan
menjaga komunikasi yang baik pula dengan Sang Pemilik alam semesta (hablun minallah).
Manusia
sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup tanpa bantuan sesamanya. oleh karena
itu, ia harus selalu berusaha menjaga komunikasi yang kondusif dengan sesamanya
dan sesama makhluk Allah SWT.
Di
samping itu, keberadaannya sebagai makhluk spiritual juga mengharuskannya untuk
selalu menjaga komunikasi intensif dengan Allah SWT sebagai Pencipta nya.
Maka,
kesuksesan manusia, sejatinya dapat tercipta jika manusia itu mau dan mampu
untuk selalu menjaga hubungannya, baik secara horizontal, maupun vertikal.
sehingga setiap usaha yang ia perbuat di dunia ini mendapat dukungan penuh,
tidak hanya dari penduduk bumi, melainkan juga dukungan dari para penduduk
langit, dan Allah SWT.
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّي يَأْتِيَكَ اْليَقِيْنُ
“Dan sembahlah Tuhan-mu hingga datang keyakinan kepadamu.”